Alkisah Leeds: Buku, Pesta, Cinta dan Rumah

Terasa atau tidak, banyak dari kita yang akan segera mengakhiri proses perkuliahan di Leeds. Itu berarti kehidupan di kota ini juga akan bertemu ujungnya. Lantas rasa sesak akan rindu yang bakal datang pun mulai muncul, terlebih ketika menulis tulisan ini, yaitu tulisan tentang kehidupan khas mahasiswa di Leeds dalam empat bagian: Buku, Pesta, Cinta dan Rumah.

Buku

Selama berkuliah di Leeds, saya dan (saya yakin) teman-teman lainnya menjalani special relationship yang cukup intens dengan perpustakaan, lab atau cluster. Tentu saja selain compulsory and stressful relationships dengan essay, exam atau disertasi.

Kalau saya pribadi, hubungan yang nggak bisa jarak jauh (dan melelahkan tapi tetap sayang) ini terjalin begitu erat dengan Edward Boyle, Laidlaw, pun Brotherton Library. Bukannya berlebihan, tapi dua hari nggak nyamperin mereka tuh rasanya hidup macam ada yang kurang, asli, haha.

Meskipun begitu, saya beruntung bisa ambil jurusan yang saya senangi. Hal ini selalu jadi semacam bahan bakar untuk berkutat dengan tumpukan essay ribuan kata serta, tentunya, penyemangat dalam ngejalanin love-hate relationship dengan perpustakaan.

Pesta

Pesta itu bersenang-senang. Dan cara saya untuk bergembira ria di Leeds adalah dengan berorganisasi di PPI Leeds serta mengunjungi acara musik.

Sebagai anggota divisi Senbud PPI Leeds, saya masih ingat betul kesenangan kala ngerjain jamming session dan ICAF. Tanpa bermaksud klise, saya merasa bangga bisa ikut memperkenalkan kebudayaan dan kesenian Indonesia ke teman-teman internasional di Leeds. Dengar-dengar, mereka juga puas dan terhibur sama acara-acara tersebut. Wah, makin gembira lah saya.

Selain ber-PPI-ria, saya juga hobi datang ke music gig. Alhamdulillah, di sini bisa kesampaian nonton konser Morrissey, Lenny Kravitz, dan Jamiroquai. I’m thankful beyond words, asli! Sebagai entitas yang nggak bisa jauh dari musik, saya juga coba cara warga lokal untuk menikmati musik, yaitu dengan pergi ke club. Kalau ada senggang dan nggak mager, weekdays atau weekend, saya suka pergi ke “Smokestack” yang Dj-nya hobi setel musik soul dan funk jadul. Meski kata orang-orang terdengar usang, tapi musik di Smokestack selalu berhasil bikin saya berdansa senang. Ah, saya juga suka pergi ke “Stone Roses”. Dari namanya sudah terbaca, kalau klub ini memutar lagu-lagu British bands kenamaan macam The Cure, Joy Division, Arctic Monkeys, dan tentu saja Stone Roses.

Cinta

Untuk bagian ini saya nggak bisa bahas banyak, karena takutnya jadi baper sendiri haha. Anyway, banyak yang terjebak cinta lokasi di Leeds. Ada yang berakhir bahagia, karena memang sah-sah saja buat mereka menjalin romansa, ada juga yang ujungnya wasted love, entah karena sudah berpasangan atau sama-sama ragu dan takut tentang rasa yang dirasa. Entah.

Namun apa pun itu, happy, sad or even no ending, kita sebagai manusia cuma bisa menjalankan. A very dear friend of mine (2018) bilang bahwa terlalu banyak opportunities di masa esok, jadi ya, lemesin aja, pikiran (dan perasaan) jangan dipersempit. Dan dengan mantra tersebut, mari sama-sama kita rayakan segala bentuk cinta yang terjadi di sini. Bagaimana pun itu, rasa ini kasih warna begitu cantik untuk kehidupan kita di Leeds. Syukur-syukur bisa bikin kita lebih sayang sama diri sendiri.

Rumah

Hal yang sangat sulit dijalani ketika tinggal di luar negeri adalah homesick. Kangen keluarga, teman atau makanan Indonesia pasti pernah kita rasain di sini. Untung saja ada teknologi video call dan koki-koki handal pembuat masakan Indonesia di Leeds. Rasa rindu pun sedikit banyak terobati.

Di Leeds, saya memaknai rumah menjadi dua: dalam bentuk bangunan fisik dan manusia lainnya. Alhamdulillah, di sini ada beberapa kediaman teman Indonesia yang bisa saya kunjungi (dan tumpangi), yang pada akhirnya jadi semacam rumah kedua, ketiga, dan seterusnya untuk saya. Selain itu, mereka baik dan hangat sekali seperti keluarga. Membuat mereka sungguh-sungguh terasa seperti rumah dan bikin Leeds pun terasa sama.

Selain keempat musim, warna senja dan matahari bulan April, “rumah-rumah” baru tadi adalah hal yang pasti akan bikin saya rindu sampai ngilu ketika proses berkehidupan di kota ini usai.

Namun, ya sudah, tidak apa. People come and go. We come to a place and then we go. Daripada bersedih, tampaknya saya akan lebih memilih untuk tersenyum atas pengalaman (yang bisa jadi sekali seumur hidup) menjalani buku, pesta, cinta dan rumah di Leeds. So, for that, thank you(s), thank God. :)

P.S. So Long, Leeds! It’s been truly heaven knowing you.

Cheers!
Daina