Planning and Writing University Assignments

Salah satu hal yang biasa menjadi momok mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Inggris adalah tugas-tugas yang begitu banyak, khususnya menulis. Misalnya saja, menulis esai, studi literatur, maupun disertasi. Hambatan bahasa akan menjadi kesulitan tersendiri bagi mahasiswa untuk menaklukkannya.

Untuk membantu kesulitan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Leeds, divisi akademik PPI Leeds mengadakan diskusi tentang bagaimana idealnya merencanakan dan menulis tugas-tugas perkuliahan. PPI Leeds pada 20 November 2017 mengundang dua pembicara, yaitu dosen School of Mathematics University of Leeds Arief Gusnanto dan mahasiswa PhD University of Leeds Triana Rahajeng Hadiprawoto.

Sebagai pembicara pertama, Arief memaparkan dari pengalamannya sebagai dosen. Menurut Arief, kemampuan menulis bukan sesuatu yang statis dan untuk itu butuh terus berlatih. “Musuh terbesar mahasiswa adalah diri sendiri, kalau Anda bisa menaklukan diri Anda, Anda bisa sukses menjalankan kuliah PhD,” ujarnya.

Arief karikatur 01

Ia menuturkan bahwa menulis apapun pada dasarnya adalah upaya untuk berkomunikasi. Menulis adalah komunikasi dua arah. Dalam komunikasi, kita tidak asal bicara, harus ada konteks. Ketika menulis, Anda harus tahu orang yang akan membaca tulisan Anda. Readers do not simply read, they interpret.

Arief 01

Dalam konteks tugas kuliah, menulis adalah upaya untuk berkomunikasi dengan dosen yang akan menilai apakah kita mampu berkomunikasi dengan baik atau tidak. Kemampuan atau kegagapan mahasiswa ini akan tampak karena biasanya dosen bisa tahu karakter mahasiswa dari seperti apa tulisan yang dibuat.

Sebagai dosen, Arief menyebut bahwa ia bisa tahu karakter mahasiswa dari tulisannya. Ketika menulis, mahasiswa mencurahkan semua isi pikiran. Dari sanalah terlihat  pattern dan kemudian bisa menunjukkan karakter.

“Ketika menulis, Anda harus right and clear,” ujar Arief. Right berarti dalam menulis kita harus menjelaskan secara presisi, A adalah A, B adalah B. Sementara itu, clear berarti ketika pembaca membaca tulisan Anda, pembaca tidak memikirkan hal yang lain. Dan ketika menulis esai, argumen utama harus diletakkan di bagian awal tulisan. Hal ini dikarenakan bagian awal tulisan akan menentukan dosen untuk menilai apakah tulisan tersebut worth it untuk dia baca atau tidak.

Arief menjelaskan beberapa tips yang bisa digunakan oleh para mahasiswa:

Pertama, pada level kalimat, kaidah universal dalam menulis adalah dari kiri ke kanan. Dalam kaidah ini, informasi lama harus diletakkan di sebelah kiri atau di awal kalimat, sementara informasi baru kemudian mengikuti di akhir kalimat. Begitu juga di kalimat-kalimat sesudahnya. Hal ini diperlukan untuk memudahkan agar pembaca dapat membaca dengan sistematis. Untuk jeda antarkalimat memerlukan stressing berupa kata penghubung atau penjelas kalimat sebelumnya.

Kedua, masih pada level kalimat, sebisa mungkin hindari untuk menulis dalam bentuk kalimat pasif. Pengecualian berlaku untuk beberapa bagian seperti dalam penulisan metode atau data sekunder. Selain itu, ketika menulis, pastikan juga jarak antara subject dan verb tidak terlalu jauh. Maksudnya, sebisa mungkin tidak menulis sebuah kalimat yang begitu panjang yang membuat pembaca lelah. Semakin efektif kalimat, maka semakin bagus.

Sebisa mungkin hindari juga menulis dalam kalimat yang panjang. Pastikan tidak menulis kalimat dalam 4-5 baris karena itu berarti terlalu banyak informasi dalam satu kalimat. Pastikan untuk memecahnya menjadi beberapa kalimat. Oleh karena itu, Anda membutuhkan kamus thesaurus untuk melakukan paraphrase dan menggunakan diksi yang tepat.

Ketiga, pada level paragraf, Anda harus meletakkan kesimpulan atau tujuan artikel yang Anda tulis di bagian awal. “Ketika menulis disertasi saya yang tebalnya 199 halaman, saya menulis kesimpulan di kalimat pertama di paragraf pertama di bab pertama,” ujar Arief. Ini berlaku secara general tetapi tidak harus selalu seperti itu. Harus tetap melihat konteks dan alur tulisan.

Keempat, pada level artikel, mahasiswa yang menulis tugas harus memastikan bahwa strukturnya rapi dan sistematis sehingga nyaman untuk dibaca. Sebagaimana pada level paragraf, kesimpulan pada level artikel harus diletakkan di awal sehingga pembaca bisa paham apa isi artikel dan apa yang diharapkan dari tulisan. Kalau memungkinkan, menggunakan ilustrasi berupa tabel juga akan lebih efektif. Majalah The Economist adalah contoh kumpulan artikel yang baik dan nyaman untuk dibaca, khususnya dalam mengolah dan memadukan tulisan beserta tabel atau ilustrasi.

Arief infografis

Surviving master programme

Sementara itu, pada sesi kedua, Triana banyak menceritakan pengalamannya ketika menjalani kuliah master yang ia selesaikan di University of Leeds. Ia menceritakan bahwa nilai pertama yang ia dapatkan untuk tugas esainya adalah 58. Saat itu tugasnya adalah menulis tentang marketing. Nilai 58 ini yang membuat sisi ambisius Triana keluar. Ia bekerja keras dan kemudian mendapatkan nilai 77 untuk disertasinya.

Triana karikatur 01

Saat mendapatkan nilai pertama, Triana sempat bertanya pada dirinya sendiri:  What went wrong on my first assignment? Dari situlah ia menganalisis bahwa tulisan esai pertamanya kurang pendekatan teoritis untuk mendukung argumen yang ia bangun. Padahal, sebagai seorang mahasiswa master, pendekatan teoritis ini sangat penting.

Triana 01

Selain itu, Triana menyebut bahwa ia kurang bisa mengambil sumber-sumber yang bagus. “Ini membuat apa yang saya ucapkan tidak dipahami oleh pembaca atau dalam hal ini adalah dosen,” ujarnya. Selain itu, juga tidak ada cerita yang rapi di dalam tulisannya. “Academic writing menurut saya sama seperti membaca buku, apa yang mau kamu ceritakan?” tambahnya. Triana juga mengatakan bahwa awalnya ia tidak begitu peduli dengan tugas pertamanya dan tidak melakukan persiapan yang serius. Baru ketika mendapat nilai 58, ia mulai lebih serius.

Bagaimana cara memperbaiki tulisannya? Triana membagi beberapa tips:

First thing first: Understand the question and requirements.

  • Trace back lecture sessions (lihat dari presentasi atau rekaman di Minerva/VLE)
  • Nothing is wrong about asking your lecturer
  • Discuss it with other colleague to test your understanding

Pemahaman mengenai tugas yang kita dapatkan ini penting agar kita tidak salah dalam memahami apa yang diinginkan oleh dosen. Setelah itu, yang mesti dilakukan adalah memahami kebiasaan kita dalam menulis. Saya sendiri bukan orang jenius sehingga saya meluangkan waktu kurang lebih dua minggu untuk menulis dan selalu memastikan mengumpulkan esai sebelum deadline tiba.

Untuk memahami topik, beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Familiarise with the topic
  • Read from good sources
  • Explore from the popular website
  • Incorporate commercial awareness

Baru setelah kita paham apa yang akan kita tulis, saatnya untuk membuat rancangan struktur esai kita. Seperti biasa, sebagaimana lazimnya tulisan akademik, ia harus memuat struktur seperti latar belakang, argumen utama, eksplorasi teori, dan kesimpulan. Mengabaikan struktur ini akan membuat pembaca kebingungan ketika membaca dan berusaha memahami apa sebenarnya inti tulisan kita.

Triana juga memberikan catatan penting untuk menggunakan kata-kata kita sendiri ketika menulis. Dengan kata lain, melakukan parafrase. Butuh kemampuan sendiri dalam melakukan ini karena parafrase tidak hanya berarti mengganti kata-kata dari sumber dari yang kita baca. Lebih dari itu, parafrase adalah mencoba mendeskripsikan ulang maksud dari sebuah gagasan atau ide dalam bahasa kita sendiri. Kalau tidak paham gagasan tersebut, kita bisa keliru menafsirkan yang justru bisa memiliki maksud yang berkebalikan dari gagasan tersebut.

Setelah itu, kita perlu memahami standar pengutipan dan referensi agar tidak terjebak pada plagiarisme. Pasalnya, plagiarisme seringkali terjadi bukan karena seorang mahasiswa secara sengaja melakukan tindak plagiat, namun karena ia keliru dan tidak memahami cara mengutip. Untuk menghindari hal ini, kita harus sering-sering melihat cara pengutipan yang ada di situs/web perpustakaan.

Terakhir, kita bisa meminta komentar dari teman atau dosen kita. Komentar ini bisa berupa substansi tulisan. Selain itu,kita juga dapat meminta komentar atau masukan terhadap grammar dalam tulisan kita. Setelah itu, proofreading dan editing dapat dilakukan dengan lebih teliti agar tulisan menjadi lebih rapi dan tidak ada kesalahan-kesalahan kecil yang bisa mengurangi nilai. Hal-hal tersebut perlu dilakukan terus-menerus karena hanya dengan cara itulah kita bisa terus memperbaiki tulisan kita.

Triana infografis

Ngadem 02

[Wisnu Prasetya Utomo/Divisi Akademik]