Menulis Disertasi Mendaki Gunung Lewati Lembah

Mengingat perjuangan menulis disertasi beberapa tahun lalu, saya teringat sepenggal lirik lagu Ninja Hatori, kalimatnya seperti ini “mendaki gunung, lewati lembah”. Kurang lebih seperti itulah yang saya pikir saya alami selama proses menulis disertasi. Entah gambaran yang tepat atau tidak, karena saya sendiri tidak memiliki pengalaman mendaki gunung, namun rasanya itu cukup menggambarkan betapa proses menulis ini butuh usaha keras dan harus pandai-pandai menyikapi mitos dan fakta seputar disertasi. Sebagai bentuk pertanggung-jawaban atas penggunaan kiasan mendaki gunung, saya pun merasa ada baiknya jika saya mengambil referensi dari American Hiking Society. Perhimpunan ini menyebutkan ada 10 hal yang harus dibawa saat mendaki gunung, diantara barang-barang tersebut, saya melihat adanya kemiripan dengan hal-hal yang dipersiapkan untuk menulis.

1. Peta dan kompas: Know where you are going

Bukan berarti saat menulis harus bawa peta ya. Tapi ini menunjukkan bahwa sebelum menulis sudah harus tau apa yang mau ditulis, artinya harus punya perencanaan. Rencana kerja ini meliputi: struktur dokumen, content plan, daftar prioritas, dan timeline.

Struktur dokumen

Tentunya saya tidak mengatakan bahwa apa yang saya tulis ini adalah struktur yang pasti berlaku di semua sekolah. Semua ini hanya berdasarkan disertasi yang saya submit tahun 2015. Di awal menulis disertasi, saya merasa proses menulis menjadi lebih mudah ketika saya sudah menentukan alokasi jumlah kata di setiap bab. Hal ini saya lakukan karena sudah berkali-kali saya menulis esai, hasilnya pasti melebihi jumlah kata yang diperbolehkan oleh sekolah. Jadi, daripada harus bersedih hati menghapus kata-kata indah lebih baik di awal sudah diperkirakan berapa kata yang harus ditulis di setiap bab. Pengalaman saya, kalo sudah ada alokasinya seperti ini, di akhir penulisan, proses editing jadi lebih mudah karena bisa langsung lihat mana bab yang paling problematic. Nah, struktur dokumen beserta alokasi kata (total 12,000) pada disertasi saya yang lalu bisa dilihat di bawah ini:

  • Table of content : 400 (3%)
  • Abstract : 250 (2%)
  • Introduction : 1,000 (8%)
  • Literature review : 3,250 (27%)
  • Conceptual framework : 1,000 (8%)
  • Methodology : 1,500 (13%)
  • Analysis : 2,300 (19%)
  • Discussion : 2,300 (19%)

Content Plan

Disertasi itu sama seperti menulis cerita. Tapi cerita ini fakta, didukung bukti-bukti ilmiah dan mengunakan kalimat yang formal. Artinya, setiap bab harus mengalir dan menyajikan benang merah yang sama, dan tetap menarik untuk dibaca. Setiap bab harus mampu menjawab pertanyaan “Why is it important?” karena dengan jawaban ini, pembaca akan terus bertahan untuk membaca dan memahami pentingnya kita melakukan penelitian ini.

Saya membiasakan diri menulis “introduction” dan “conclusion” untuk setiap bab. Supaya pembaca mengerti apa yang akan mereka baca dalam bab tersebut dan memahami esensi yang bisa diambil setelah membaca. Ini menjadi semacam repetisi supaya pesan kita lebih mudah diterima pembaca. Lagi-lagi, ini juga urusan style, yang mana bisa jadi tidak cocok untuk disertasi beberapa diantara kalian. Tapi, saya melihat ini memberikan clarity dan control untuk kita pribadi.

Menulis Introduction sebagai bab awal, biasanya lebih baik dilakukan di akhir karena Introduction ini harus mencakup semua hal yang ada di bab-bab lainnya. Sesuai namanya ya, ini bagian dimana kita mengenalkan topik yang kita bahas, variables, dan teori yang kita gunakan. Pastikan juga istilah yang digunakan akan sama untuk seluruh dokumen. Contohnya: consumer atau customer, buying process atau shopping process.

Penelitian saya saat itu adalah kuantitatif menggunakan survey. Untuk mempresentasikan hasilnya, saya banyak menggunakan tabel dan diagram. Fungsinya agar pembaca lebih mudah mengerti dan juga ini memangkas banyak sekali kata-kata, karena sesuai dengan ungkapan popular “a picture speaks a thousand words”.

Daftar prioritas dan Timeline

Rekan saya, Fajar Putu (LUBS, 2015) menyebutkan bahwa selama menulis pasti akan dijumpai berbagai distraksi. Dengan waktu yang terbatas, daftar prioritas ini bisa membantu kita untuk lebih fokus. Daftar ini bisa memandu kita untuk menentukan mana dulu yang harus diselesaikan. Misalnya, mengatur jadwal wawancara mungkin lebih penting untuk dilakukan di awal daripada menyelesaikan literature review karena wawancara berkaitan dengan pihak lain dimana prosesnya bisa panjang dan butuh beberapa kali korespondensi. Contoh lain, mungkin ada konser atau music gig yang sedang kita incar untuk ditonton minggu depan. Ada baiknya kalau kita semacam membuat perjanjian dengan diri sendiri: “sebelum nonton, bab 3 udah harus selesai”. Nah, ini bisa jadi reward juga, jadi daftar prioritas tidak hanya terpaku dengan kerja dan kerja, tapi juga ada apresiasi untuk diri sendiri.

2. Baju dan alas kaki yang mumpuni: Use a proper gear to write

Sesungguhnya, saya tidak mempermasalahkan baju dan alas kaki yang kalian pakai saat menulis. Tapi esensi dari “baju dan alas kaki” untuk mendaki itu saya interpretasikan sebagai perlengkapan untuk menulis. Pakai laptop pribadi atau komputer di computer cluster dan perpustakaan tidak ada masalah. Hal yang perlu dipikirkan adalah pastikan keadaannya prima! Jangan sampai di tengah jalan rusak. Ada tips menarik dari teman saya, Wanda (LUBS, 2015), yaitu:

“Dulu batere laptopku cuma tahan 3 jam. Jadi pas mau berangkat ke perpus udah dalam kondisi penuh. Dan sengaja ga bawa chargeran ke perpus. Biar ngerjainnya fokus full 3 jam ga sia sia, karena tau batere bakal abis.”

“Di perpus atau tempat ngerjain, pastiin semua buku udah disiapin jd ga ada excuse buat ngalor-ngidul minjem2 dulu. Itu adalah pintu setan untuk menggoda kita belok jajan atau gosip sama temen.”

3. Makanan dan minuman

Nah, poin ini sepertinya tidak perlu terlalu dijelaskan. Tipsnya adalah makan di saat yang tepat! Buat rencana istirahat misalnya setiap satu jam sekali. Supaya proporsi calories intake sesuai dengan words count. Pastikan juga untuk minum 1.2 liter air setiap harinya, karena dehidrasi dapat membuat kita kesulitan berpikir dan kehilangan energy (Villarica, 2012). Kalau untuk saya pribadi, ngemil dan minum ini juga berguna untuk menghindari diri dari kantuk yang tak tertahankan.

Selain makan dan minum, pastikan pada interval istirahat, kita melakukan gerak atau olah tubuh seperti jalan beberapa langkah. Ini bagus untuk metabolisme tubuh dan regulasi gula darah: intinya supaya tetap sehat ya :)

4. Safety gear dan peluit: Get some help if needed

Peluit ini saya interpretasikan sebagai call for help. Supervisor kalian tentunya orang yang paling tepat untuk dimintai pertolongan. Namun, beberapa sekolah memberikan batasan pertemuan antara mahasiswa-supervisor. Untungnya, universitas menawarkan berbagai bantuan juga jadi jangan sampai masalah yang dihadapi dipendam sendiri. Semua pasti ada solusinya dan jangan ragu untuk bertanya atau mencari pertolongan seketika menjumpai masalah. Supervisor atau temen atau orang lain, akan lebih mudah membantu kalau kita sendiri terbuka untuk dibantu. Bantuan ini bisa bentuknya macam-macam ya, sekedar bahu untuk bersandar kadang juga berguna lho atau sekedar video call dengan orang tersayang bisa meruntuhkan penat dalam menulis. Saran saya ya, jangan mengurung diri dalam tempurung, karena sesungguhnya, kura-kura saja mau melihat dunia. Ini kurang nyambung ya, tapi pesan saya, komunikasikan masalah yang dihadapi dan aktif mencari solusi. Niscaya, semua ada jalannya.

5. Tas ransel: Organise your work and store it safely!

Bukan maksud saya menyarankan kalian untuk membeli tas ransel yang baru. Tapi pesan saya adalah pastikan kalian menyimpan dokumen, baik hardcopy maupun softcopy di tempat yang aman dan terstruktur. Fungsinya, supaya mudah untuk bolak balik lihat referensi yang kita buat, apalagi jumlah referensi pada disertasi saya mencapai 99 judul.

 

Disiplin,

Fokus,

Review setiap bab,

Jangan tunda sampai akhir.

Oleh:

Triana R. Hadiprawoto