Menjadi Mahasiswa di UK

Oleh: Wisnu Prasetya Utomo (Mahasiswa MA Communication and Media University of Leeds)

“Bagaimana rasanya kuliah di luar negeri?” Beberapa teman menanyakan pertanyaan ini ke saya. Biasanya saya jawab: “ya biasa saja seperti kuliah, cuma di luar negeri”. Ini jawaban yang bisa dibilang sekenanya tapi serius. Euforia karena bisa kuliah di Inggris tidak terlalu lama saya rasakan. Apalagi begitu masuk masa perkuliahan yang segera menuntut konsentrasi karena daftar bacaan dan tugas-tugas yang sudah menunggu.

Banyak teman yang mengingatkan bahwa di hari-hari pertama saya mungkin akan mengalami culture shock, dari problem kebiasaan sehari-hari, cuaca, sampai persoalan makanan, apalagi ini pengalaman pertama saya ke luar negeri. Namun, kurang lebih dua bulan di Leeds, saya tidak menemui hambatan berarti terkait hal tersebut.

Apa yang lebih bikin saya kaget adalah kehidupan akademik di sini. Ada banyak hal yang menuntut adaptasi dengan cepat. Ini yang akan saya ceritakan dalam tulisan singkat ini. Dari pengalaman yang masih sebentar, apa yang saya pelajari dari kehidupan akademik di Inggris adalah kemandirian. Ini adalah syarat utama, dan kita akan sulit beradaptasi jika tidak memilikinya.

Mengapa?
Di Inggris, jangka waktu kuliah master rata-rata satu tahun, cepat sekali. Di jurusan saya di Communication and Media, ada tiga mata kuliah yang harus saya ikuti ikuti di semester pertama: dua mata kuliah wajib dan satu mata kuliah pilihan. Periode satu semester sendiri sangat pendek, hanya 11 kali pertemuan dengan masing-masing pertemuan dua kali 60 menit.
Masing-masing pertemuan dibagi ke dalam dua tipe kelas: lecture dan seminar. Di kelas lecture, dosen akan menyampaikan presentasi seperti biasa. Sementara di kelas seminar, mahasiswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang akan mendiskusikan topik yang sudah dibahas di kelas lecture.

Di School of Media and Communication, biasanya tugas untuk mahasiswa ada dua: esai dan proyek akhir. Tidak ada ujian di kelas seperti di fakultas lain. Tugas esai di kelas saya diberikan oleh dosen di pertemuan pertama, beserta reading list dan topik yang akan dibahas tiap minggu. Oh iya, di semester satu ini, kuliah saya hanya ada di hari Rabu dan Kamis. Sisanya, tentu saja libur. Tapi tentu saja tidak benar-benar libur yang membuat kita bisa tenang jalan-jalan atau memilih tidur.

Hari-hari selain waktu kuliah adalah waktu di mana kemandirian kita diuji. Ini adalah waktu untuk membaca jurnal, buku, atau materi-materi lain. Ini juga akan menentukan sejauh apa kita bisa memahami dan mengikuti kuliah.

Untuk mengikuti materi kuliah mingguan atau aktif di kelas seminar, tidak ada cara lain selain membaca daftar bacaan yang sudah diberikan oleh dosen. Mengabaikan bacaan utama akan berakibat pada kebingungan di kelas. Sudah membaca pun terkadang masih kesulitan memahaminya maksudnya (tentu saja karena bahasa jadi hambatan utama), apalagi kalau tidak membaca atau membiasakan diri dengan materi kuliah.

Dosen biasanya memang hanya akan merekomendasikan kita untuk membaca bahan-bahan yang penting saja. Namun, jika tidak pandai-pandai menambah bahan bacaan, pada akhirnya kita tetap akan kesulitan. Kalau kamu mahasiswa ilmu sosial, bayangkan saja harus membaca atau mereview buku-buku Theodore Adorno, Juergen Habermas, Stuart Hall, sampai Michel Foucault dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kalau mengikuti alur belajar dan tidak banyak menghabiskan waktu buat tidur atau mencoba berbagai resep masakan, membaca sejauh kemampuan kita akan sangat membantu mengerjakan esai. Di situ pemahaman akan materi yang kita baca akan diuji. Ini salah satu sumber kegagapan saya di awal kuliah.

Deadline tugas esai pertama saya adalah awal November, tidak sampai 2 bulan setelah masuk kuliah. Di sini hambatan datang berlipat.

Pertama, soal menulis dalam bahasa akademik. Akan sulit menulis dalam gaya akademik, apalagi jika tidak terbiasa. Kemampuan kita untuk menganalisis masalah (dan terkadang teori) dan skill mengutip karya-karya akademik lain akan diuji.
Yang saya pelajari dari esai pertama saya dan cerita teman-teman lain: meskipun kamu lancar berbahasa Inggris, itu bukan jaminan lancar dalam menulis esai. Meskipun kamu terbiasa menulis, itu juga tidak otomatis kamu akan lancar dalam menulis esai yang punya standar dan kaidah penulisan yang ketat.

Ini pengalaman pertama saya menulis akademik dalam bahasa Inggris. Rasanya seperti siksaan, the struggle is real. Lebih karena saya selama ini selalu berpikir dalam bahasa Indonesia dan sekarang tiba-tiba harus mencoba masuk dalam logika berbahasa Inggris, lebih spesifik: tulisan akademik.

Belum lagi tekanan menulis esai pertama ini berada di antara musim gugur dan menjelang musim dingin. Perubahan waktu dari British Summer Time (BST) ke Greenwich Mean Time (GMT) membuat malam terasa datang lebih cepat dan otomatis lebih lama. Sementara suhu udara juga semakin dingin. Beberapa hari belakangan jadi semakin terbiasa dengan suhu di bawah 50 celcius.

Hal kedua adalah soal plagiarisme. Di Inggris ini jadi soal yang serius. Universitas bisa sampai memecat mahasiswa apabila mereka diketahui melakukan plagiarisme dengan sengaja dalam level yang sudah parah. Mendeteksi plagiarisme adalah hal yang mudah. Ketika akan mengumpulkan esai, tahap awal yang mesti dilakukan adalah memasukkannya ke dalam Turnitin, perangkat teknologi yang berfungsi mendeteksi kemiripan tulisan kita dengan berbagai tulisan yang pernah ada.

Problemnya, plagiarisme seringkali terjadi bukan karena kita sengaja melakukannya. Ia bisa terjadi karena kita keliru cara mengutip. Artinya, jika kita tidak belajar dengan cepat, perkara kutip-mengutip ini bisa membawa kita terjebak dalam plagiarisme.

Hal-hal di atas yang sampai saat ini masih mengagetkan saya, dan masih mencari cara yang ideal untuk menghadapinya. Konsultasi ke semacam pusat bahasa di kampus bisa menjadi salah satu cara untuk melatih rasa percaya diri kita dalam menulis. Selain itu tentu saja, tidak ada cara lain: banyak-banyak membaca, berlatih menulis, dan membiasakan perpustakaan sebagai teman.