Tips Pengiriman Aplikasi VISA UK (Tier 4) untuk dependent

Andini Indyanita

Perkenalkan saya adalah partner dari mahasiswa University of Leeds. Saya ingin berbagi pengalaman dalam melakukan permohonan visa tier-4 student dependent yang saya lakukan. Sebelumnya saya dengar gosip-gosip tetangga bahwa apply visa untuk dependent itu susah. Lalu tetangga yang lain mengatakan bahwa apply untuk visa dependent itu gampang dan jarang ditolak. Ternyata setelah dijalankan, kedua gosip tersebut benar, gampang-gampang susah. Karena memang menurut saya informasi mengenai persyaratan dan peraturan yang yang harus dipenuhi kurang jelas, kemudian juga tidak ada pihak berwenang yang bisa ditanya-tanya secara detail. Jadi, berikut inilah pengalaman yang saya miliki. Semoga bermanfaat :)

Pengalaman pertama saya dalam melakukan permohonan visa yang dilakukan berbarengan dengan suami ini sungguh membuat sakit hati, karena visa suami diterima tapi visa saya ditolak dengan alasan dari penolakan adalah border agency tidak puas dengan data saya yang menunjukkan bahwa saya tidak tinggal bersama suami selama di Indonesia. Sungguh miris rasanya mendengar alasannya hanya seperti itu. Yang terjadi pada kondisi kami adalah seperti ini; karena kami baru menikah 8 bulan, dan tinggal sendiri di apartemen (bukan di rumah orang tua ataupun mertua) dan belum settled karena masih berpikir untuk pindah, maka kami belum memperbarui KTP, dan masih terdaftar di Kartu Keluarga orang tua masing-masing. Sebenarnya hal tersebut bukan masalah, karena ada juga pengalaman dengan kondisi seperti itu namun visa untuk dependent-nya diterima. Permasalahan pada kasus saya adalah, ketika mengisi aplikasi online, kami mencantumkan alamat yang sesuai dengan KTP dan Kartu Keluarga, padahal seharusnya yang dicantumkan adalah alamat tempat tinggal saat ini yang menunjukkan bahwa kami pasangan suami istri yang tinggal bersama.

Dari alasan tersebut saya dan suami menyimpulkan bahwa sepertinya ikatan pernikahan saya dan suami diragukan, denger-denger sih karena ternyata banyak kasus sebelumnya yang ‘terbukti’ pemohon visa melakukan ‘fake marriage’ dengan calon student agar mendapatkan izin tinggal di UK dalam waktu yang cukup lama, kemudian mencari kerja di sana (karena visa dependent student diizinkan untuk bekerja secara legal di UK). Berikut saya cantumkan beberapa poin hasil analisis ‘sok tau’ saya dan suami mengenai alasan mengapa visa saya ditolak dan mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan kalian dalam menyiapkan visa student dependent:

1. Data alamat yang dicantumkan dalam mengisi aplikasi visa saya dan suami berbeda.
2. Uang deposit untuk biaya hidup saya berada di rekening saya, dan untuk biaya hidup suami ada di rekening suami. Mungkin ini menjadi salah satu penguat alasan mereka bahwa suami tidak menanggung biaya hidup istri, yang artinya kami mungkin akan hidup sendiri-sendiri di sana (hanya analisis asal-asalan sih). Namun untuk permohonan visa kedua saya, saya memindahkan uang deposit ke rekening suami, dan suami memberikan surat keterangan sponsor yang menjelaskan bahwa akan menanggung biaya hidup saya selama di UK.
3. Belum ada bukti akomodasi tempat tinggal di UK yang akan ditempati bersama. Kami memang belum memutuskan dimana akan tinggal di UK (walaupun sudah mencari beberapa kandidat flat) ketika kami masih berada di Indonesia. Alasannya adalah kami mau melihat dan memilih langsung karena beberapa saran teman yang mengatakan bahwa jangan sampai menyesal tidak memilih tempat tinggal dengan melihat langsung karena tidak bisa pindah sebelum kontrak habis, atau ada juga yang menceritakan pengalaman penipuan oleh pihak agen/landlord. Selain itu pihak agen yang flat-flat nya kami incar juga tidak mengizinkan tanda tangan kontrak melalui online.
4. Dari data dan dokumen yang kami berikan, satu-satunya yang menunjukkan bahwa kami suami istri hanyalah buku nikah. Dan sepertinya bagi mereka buku nikah tidak menunjukkan autentikasi hubungan. Karena setelah saya baca di pasal-pasal peraturan izin tinggal (bisa juga dibaca di sini : http://www.ukba.homeoffice.gov.uk/policyandlaw/immigrationlaw/immigrationrules/part8/), tidak hanya pasangan suami istri yang bisa memohon visa dependent. Boyfriend, girlfriend, dan unmarried same-sex partner pun bisa menjadi dependent applicant jika memang tinggal bersama. See, sepertinya bukti tinggal bersama lebih autentik dari pada secarik buku nikah :( (yah namanya juga beda budaya :p). Maka akhirnya di permohonan visa kedua saya, saya mencantumkan beberapa (lebih tepatnya banyak) lembar foto saya dan suami ketika pacaran, ijab kabul, resepsi pernikahan, bulan madu, liburan, bahkan foto rame-rame bersama keluarga saya maupun keluarga suami (lengkap dengan keterangan waktu dan lokasi) yang menunjukkan bahwa kami benar-benar berhubungan dan sudah dari lama.

Akhirnya setelah melewati masa berkabung setelah penolakan, dan berkonsultasi dengan banyak pihak (teman, forum2 sosial media, agen, pihak universitas suami, dll) berikut adalah daftar lengkap dokumen2 yang saya siapkan untuk melakukan permohonan visa dependent kedua saya:

– Paspor, dengan expiry date yang masih berlaku sampai dengan selesai masa studi suami
– Akta kelahiran, diterjemahkan di sworn translator
– Kartu Keluarga, diterjemahkan di sworn translator
– Buku nikah
– Surat keterangan sponsor dari suami yang menyatakan bahwa saya akan tinggal dengan suami di alamat sekian, dan suami akan menanggung hidup saya selama di sana
– Offer letter dan CAS suami
– Surat keterangan akomodasi
– Student ID card suami
– Deposit uang di Bank dalam bentuk tabungan (cair, bukan deposito, reksadana, dsb) sejumlah 9 bulan dikali biaya hidup per bulannya.
– Bank Statement yang menyatakan suami saya memiliki rekening di bank terkait dengan nomor rekening sekian, saldo sekian, dan keterangan tersebut untuk keperluan aplikasi visa istrinya sebagai dependent.
– Medical Report yang menjelaskan free TB (untuk selengkapnya baca info dr ukba: http://www.ind.homeoffice.gov.uk/countries/indonesia/tb-test/?langname=Indonesian)

Kemudian berikut adalah dokumen tambahan yang disiapkan karena visa saya yang sebelumnya ditolak :

– Foto-foto bersama suami
– Sertifikat ijazah dan transkrip nilai pendidikan terakhir milik pribadi (ini karena aplikasi saya tidak berbarengan dengan pemohon utama, jadi saya diperlakukan seperti student sehingga dokumen ini harus disertakan juga)
– Buku tabungan dan bank statement rekening pribadi walaupun uangnya sudah berkurang (untuk menunjukkan bahwa dalam permohonan visa sebelumnya saya menggunakan rekening tersebut)
– Surat keterangan bahwa pernah menerima penolakan visa, alasannya, dan permohonan maaf karena melakukan kekeliruan dalam menyiapkan dokumen (permohonan maaf ini hanya bentuk ‘kesopanan’ saya setelah awalnya saya sempat mau bilang kalau border agency telah melakukan kekeliruan dalam mengambil keputusan, tapi ternyata katanya border agency ga mau jd pihak yang dipersalahkan atau dituduh telah melakukan kekeliruan dalam mengambil keputusan)

Dan, voila, setelah melakukan permohonan visa ulang yang artinya juga membayar lagi uang pendaftaran, tetapi dalam 3 hari saja visa saya sudah diterima :)