Enam Bulan Terakhir, Dua Kali Leeds Terpapar Suhu Ekstrem

Leeds. Di pertengahan April 2018 lalu, Leeds yang baru memasuki musim semi mendadak terasa lebih panas dari biasanya. Saat itu, 19 April 2018, suhu udara menyentuh 28 – 29 derajat celcius. Suhu panas yang cukup tinggi mengingat musim panas masih jauh dari perkiraan. Berdasarkan pemberitaan yang beredar di media-media, terik matahari tersebut datang dari gelombang panas yang sedang menyambangi Britania Raya.

Mengutip laporan yang dibuat oleh Telegraph.co.uk, suhu panas yang menyelimuti Leeds dan kota-kota di United Kingdom lainnya ini menyentuh level panas tertinggi dalam 70 tahun terakhir. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Leeds. Suhu udara di Kawasan Northern Ireland mencapai 19 derajat celcius, sedangkan di daerah Scotland bisa sampai 20 derajat celcius kala itu. Sebagai pembanding, masih dari pemberitaan yang sama, suhu udara sepanjang April di UK umumnya berada di kisaran 11,4 derajat celcius. Jelas kontras dengan apa yang terjadi di pertengahan April kala itu.

Wajar, sepanjang mata memandang, ratusan orang memillih berjemur di setiap taman yang tersebar di sekitaran kampus. Warga berbondong-bondong mengenakan summer outfit terbaiknya, memborong berkrat-krat bir dan kotak-kotak eskrim di supermarket lalu beranjak menemukan sudut terbaik di taman untuk bisa menikmati sinar matahari yang begitu langka tersebut.
Meski memasuki minggu kedua Mei ini suhu udara kembali sejuk. Bukan berarti tidak ada potensi gelombang panas akan kembali mampir berkunjung. Dari perkiraan cuaca yang dirilis oleh Met Office, sebagaimana dikutip oleh Yorkshire Evening Post, sepanjang Mei dan Juni 2018 suhu udara akan berada di atas rata-rata. Bahkan diperkirakan, sepanjang 22 Mei – 6 Juni 2018 ada risiko suhu udara akan kembali meningkat signifikan.

Anomali cuaca yang terjadi di Leeds ini jelas bukan yang pertama bagi mahasiswa/i Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Leeds. Sebelumnya, tentu masih ingat di penghujung Februari 2018 lalu, saat semua sudah bersiap menyambut musim semi dan menanggalkan jaket tebalnya, Leeds dihantam badai salju hampir seminggu penuh.

Musim dingin yang terlewati tanpa pernah menatap halaman rumah yang tertutup salju putih akhirnya terwujud di akhir Februari 2018. Dari pemberitaan yang beredar, saat itu Britania Raya dihempas badai dengan nama “Beast From The East”. Sesaat, jaket-jaket tebal harus kembali bertugas bahkan kali ini lengkap dengan penutup kepala dan sarung tangan.

Mengacu pada pemberitaan yang ditulis oleh BBC News, Beast From The East atau yang juga dikenal dengan nama Siberian Bear oleh orang-orang Belanda atau Snow Cannon oleh orang Swedia, ini tidak hanya terjadi di UK tapi juga di seluruh daratan Eropa.

Telegraph.co.uk menyebutkan badai salju yang menyebabkan suhu rendah di sepanjang daratan Britania Raya pada saat itu merupakan suhu terendah sepanjang Februari sejak tahun 2013. Bagi sebagian warga Indonesia di Leeds, badai salju itu membawa kebahagiaan yang tak terkira. Semua berbondong-bondong mengabadikan momen langka yang mungkin hanya terjadi dalam hitungan jari dalam seumur hidup seorang anak tropis.

Kesempatan untuk mencoba merasakan snowslide dengan sledges di taman-taman kota, membuat snowman, atau membentuk snowangel di atas salju. Seperti halnya terik matahari menyengat yang jarang terjadi di Leeds, warga Indonesia menikmati setiap anomali cuaca yang terjadi dengan suka cita.

Walau kadang badan harus beradaptasi lebih keras, namun pengalaman-pengalaman yang hadir tentu tidak dapat terulang. Bahkan bagi warga asli UK, perubahan cuaca drastis ini pun dimanfaatkan sedemikian rupa, jadi mengapa tidak menikmati setiap kejutan yang hadir dan mengikuti kebiasaan warga di sini, bukan?

Karena jelas peluang bermandi salju deras dan membenamkan sepatu boots di atas salju sedalam mata kaki tidak akan terjadi di tanah air. Sedangkan berjemur di taman di bawah matahari dengan kacamata hitam dan perlengkapan piknik bukan lah rutinitas yang biasa ditemukan di tengah terik matahari Indonesia yang menyengat.

Setidaknya, ada hikmah yang dapat diambil dari perubahan cuaca ekstrem yang menyerang Leeds. Memberi pengalaman yang mungkin bisa diabadikan dan diceritakan pada anak cucu nantinya di masa depan. Bahwa pernah suatu waktu, hidup di tengah provinsi West Yorkshire dan ikut mengalami anamoli cuaca pencipta rekor baru di Britania Raya sepanjang sejarah.

Oleh Namira Nainggolan