Indonesian Fair: Sehari di ‘Kampung Leeds’

Ikhsan Assaat

Sebuah scene dari ‘Laskar Pelangi’ menjadi background dari percakapan beberapa pengunjung yang tengah berdiskusi tentang proses pembuatan kain batik Jawa. Alunan suara gamelan dan angklung sayup terdengar seraya pengunjung lainnya menikmati tempat-tempat wisata lewat foto yang terpajang rapih. Ditemani hidangan kopi dan martabak hangat, cengkrama dan canda tawa menghiasi wajah-wajah pengunjung di sejuknya suasana itu. Senyum-senyum sumringah terpancar jelas dari pengunjung di photobooth saat menggunakan rompi ala Dayak dan rok jerami dari Papua.

Cerita di atas mungkin umum bila terselenggara di Indonesia, namun akan sangat spesial bila semua itu bisa diselenggarakan 12,000 km jauhnya dari Indonesia. Sebuah hall bernama Riley Smith Hall di University of Leeds, berhasil disulap menjadi sebuah ‘kampung’ yang sangat Indonesia. Dimulai pada jam 10, stand-stand yang dibagi menjadi beberapa zona telah siap untuk memanjakan lidah, mata dan telinga pengunjungnya. Acara ini tidak hanya dikunjungi oleh warga Indonesia saja, namun juga warga non-Indonesia seperti mahasiswa UK, mahasiswa internasional dan juga staff dari University of Leeds. Terhitung lebih dari 100 pengunjung memadati ‘kampung’ buatan PPI Leeds dan warga Indonesia!

Acara ini adalah bagian dari sebuah festival yang diadakan oleh Leeds University Union (LUU) bernama ‘World Unite Festival’. Selama satu minggu penuh (10 – 16 Februari 2014) terdapat berbagai rangkaian acara dari banyak bangsa, yang bertujuan untuk menampilkan kekayaan kebudayaan yang dipunyai oleh mahasiswa-mahasiswa di University of Leeds.

Poster Teaser Indonesian Fair 2014
Poster Teaser Indonesian Fair 2014

PPI Leeds berinisiatif untuk mengambil bagian dalam festival tersebut dengan membuat pameran budaya Indonesia di area kampus. Dengan mengusung tema ‘Back to Kampung‘, divisi kebudayaan PPI Leeds ikut berpartisipasi dengan beberapa tujuan, yaitu: untuk menunjukan eksistensi sekaligus promosi budaya-budaya Indonesia di mata internasional, meningkatkan kecintaan warga Indonesia terhadap budayanya sendiri, dan tentunya sebagai ajang silaturahmi bagi warga Indonesia maupun asing.

Suasana 'Kampung' di Riley Smith Hall
Suasana ‘Kampung’ di Riley Smith Hall

Di kampung ini terbagi menjadi empat bagian; zona registrasi dan photobooth, zona jajanan makanan dan minuman, zona seni dan pariwisata dan zona produk kreatif. Pembagian ini dirancang supaya semua pengunjung harus melewati semua zona sebelum akhirnya meninggalkan melalui pintu keluar.

Zona 1: Registrasi dan Photobooth

Di zona pertama, pengunjung melakukan registrasi dan setiap dari mereka ditawarkan untuk memilih kostum daerah untuk difoto sebagai kenang-kenangan. Kostum tersebut memang dipinjam khusus dari KBRI London untuk pertunjukan keesokan harinya. Terlihat dari daftar registrasi, pengunjung berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Taiwan, Thailand, Siprus dan tentu saja Inggris. Tidak heran bila pameran ini menjadi salah satu pameran yang paling banyak pengunjungnya selama penyelenggaraan ‘World Unite Festival’.

Zona 2: Aneka Jajanan dan Kopi

Stand Jajanan dan Kopi
Stand Jajanan dan Kopi

Zona ini tampak seperti zona yang paling nyaman bagi para pengunjung. Panitia membuat ‘cafe’ yang mungkin terlihat biasa dari luar, tapi akan terasa berbeda saat melihat menunya. Hanya di hari itu sajalah dimana Anda bisa menemukan cafe di Leeds yang menyediakan martabak, kue lapis, klepon dan kopi-kopi racikan khas Indonesia. Di akhir acara semua jajanan ludes tidak tersisa! Hal tersebut dicurigai terjadi karena kerinduan warga Indonesia akan jajanannya, atau karena kelezatan jajanan Indonesia memang universal hingga warga asing pun tidak bisa berhenti melahapnya.

Suasana Café ala Indonesia
Suasana Café ala Indonesia

Zona 3: Seni dan Pariwisata

Di bagian pariwisata terpajang foto-foto tempat wisata, satwa khas dan tempat bersejarah dari Indonesia. Panitia juga membagikan brosur-brosur tentang program-program yang sedang dijalankan oleh KRBI London, salah satunya adalah brosur kompetisi menulis untuk warga Inggris dan Irlandia yang berhadiah paket wisata ke Indonesia.

 

Stand Fotografi di Zona Pariwisata
Stand Fotografi di Zona Pariwisata

Tempat kesenian sendiri memamerkan alat-alat musik dari Indonesia; sebut saja angklung, talempong dan gamelan. Bagi warga asing alat-alat ini cukup mencuri perhatian mereka karena bentuk dan bunyinya yang beda dari alat musik kebanyakan. Sebelum dijelaskan, mereka tampak penasaran dan sedikit bingung untuk memainkannya. Penjelasan dilakukan oleh panitia dengan memperlihatkan video-video musik tradisional, lalu mereka dipandu dan dipersilahkan untuk mencoba memainkannya sendiri.

Uniknya, gamelan yang ditampilkan bukan gamelan yang terbuat dari logam tapi terbuat dari drumpad untuk XBOX. Drumpad tersebut ditampilkan seperti gamelan dan disambungkan ke sebuah software ‘Saron Looper‘ yang dibuat sendiri oleh mahasiswa Indonesia di University of Leeds. Pengunjung sangat antusias dalam memainkan nada-nada Slendro dan Pelog dari sebuah saron tanpa harus menggunakan instrumen aslinya.

Gamelan Elektrik buatan Mahasiswa Indonesia
Gamelan Elektrik buatan Mahasiswa Indonesia

Zona 4: Produk Kreatif Batik dan Asesoris

Zona terakhir adalah zona yang memajang dan menjual produk-produk kreatif asli dari Indonesia, seperti tas-tas batik dan asesoris berupa kalung-kalung etnik. Pada zona ini, panitia menjelaskan tentang kain-kain batik dari berbagai daerah di Indonesia kepada warga asing menggunakan video dan memperlihatkan hasil akhirnya menjadi sebuah tas dari berbagai model, warna dan ukuran.

Produk Kreatif Tas Batik dan Asesoris
Produk Kreatif Tas Batik dan Asesoris

Selain pameran di keempat zona tersebut, panitia juga mengadakan dua acara menarik seperti pemutaran film dan workshop angklung. Di antara zona 3 dan 4, terdapat sebuah layar besar lengkap dengan sound system-nya untuk penyelenggaraan pemutaran film. ‘Laskar Pelangi’ didaulat menjadi perwakilan industri film Indonesia saat ini. Dimulai pada jam 11.45, pengunjung menonton ‘layar tancap’ di tikar yang telah disediakan. Pengunjung khidmat mengikuti jalannya film yang telah mendapatkan banyak penghargaan baik di kancah nasional maupun internasional.

Lalu tepat jam 2 siang panitia mengadakan workshop angklung yang mengajak pengunjung untuk berpartisipasi untuk memainkan sebuah lagu dengan satu nada per satu orang. Seluruh partisipan dipandu oleh seorang ‘conductor’ untuk menggoyangkan angklungnya jika diberi tanda nada yang sesuai. Selanjutnya partisipan harus menebak lagu apa yang baru saja dimainkan karena sebelum dimulai sang pemandu tidak memberi informasi lagu apa yang akan mereka mainkan.

Saat waktu sore telah menjelang, tibalah waktunya untuk panitia menutup acara pameran. Senyum-senyum bertebaran dari pihak panitia dan pengunjung, menandakan kepuasan kedua belah pihak dengan seluruh rangkaian acara. Di kampung ini, semua berjalan tertib, aman, meriah dan lancar.

‘Cultural Showcase’ sebagai puncak acara World Unite Festival akan segera digelar di tempat yang sama esok harinya. Kami yang telah sangat siap tampil, segera bergegas untuk berisitirahat. Karena hari terbesar kami sebagai warga Indonesia di Leeds sudah terlihat di depan mata!